Upaya meningkatkan bauran energi baru terbarukan sebanyak 23 persen pada tahun 2025 dan 31 persen pada tahun 2050, memiliki konsekuensi yang signifikan terhadap sektor hutan dan lahan. Penggunaan biomassa dari kayu diklaim sebagai terobosan dalam strategi meningkatkan porsi energi baru terbarukan sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional tahun 2017. Implementasinya, dalam dokumen RUPTL, Perusahaan Listrik Negara (PLN) berkomitmen untuk mengimplementasikan bauran pembakaran (cofiring) hingga 10 persen di 52 PLTU di Indonesia sebagai bagian dari proyek transisi energi. Biomassa berdasarkan target proporsi tertentu akan menggantikan energi final batubara dan dibakar secara bersamaan dengan batubara. Inilah yang kemudian diklaim sebagai energi bersih dari penggunaan biomassa sebagai sumber energi terbarukan. Praktik ini dilakukan dalam rangka pengurangan emisi dari sektor energi termasuk hutan dan lahan.